Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightKetika LKH Terpantau di RUPS BBRI Evolusi Deep Value Investor ke Dividend Investor

Ketika LKH Terpantau di RUPS BBRI Evolusi Deep Value Investor ke Dividend Investor

Lo Kheng Hong, sang “Warren Buffett-nya Indonesia”, dikenal publik pasar modal sebagai penjaga suci margin of safety. Prinsipnya saklek: hanya beli saham yang benar-benar murah. Bukan sekadar murah dari harga, tapi juga dari valuasi. PBV harus di bawah 1, idealnya di bawah 0,5. PER? Kalau bisa jangan lewat dari 10, lebih cinta lagi kalau bisa disabet di bawah 5. Itulah pakem klasik LKH. Tapi belakangan, pemandangan mencengangkan terjadi: LKH hadir di RUPS BBRI. Iya, Bank BUMN jumbo, dengan PBV 1,77 dan PER 9—valuasi yang dalam kamus lama LKH, mungkin sudah masuk kategori “kemahalan akut.”


Jadi pertanyaannya: apa yang terjadi? Apakah LKH benar-benar berubah? Apakah beliau sudah keluar dari ajaran deep value investing? Atau ini semacam pencerahan spiritual pasca nyangkut panjang di saham-saham value murahan yang tak kunjung naik?

Kalau kita tarik garis waktu, semua ini mulai berubah sejak BMTR, saham media yang dulu dianggap undervalued (dan memang secara angka terlihat sangat murah), tapi ternyata murahnya bukan karena kelalaian pasar, tapi karena pasar sudah tahu isinya. Di situlah LKH terjebak. Nyangkut. Lama. Dan yang lebih pahit: tidak ada dividen, tidak ada likuiditas, dan tidak ada sentimen. Yang ada cuma LOL Bakery dan doa panjang para investor value agar market sadar suatu hari nanti.

Dari pengalaman itu, mungkin LKH mulai sadar bahwa terlalu keras berpegang pada value kadang membuat kita nyangkut di tempat yang benar secara teori, tapi salah secara realita. Sementara BBRI? Oke, PBV 1,77 itu mahal untuk standar LKH. Tapi ini bank yang laba bersihnya tahun 2023 tembus Rp60,4 triliun, dividend payout-nya 85%, dan dividend yield-nya sekitar 7%—bahkan lebih tinggi dari deposito. Dan yang paling penting: harganya naik. Likuiditasnya besar. Investor asing cinta. Pemerintah sayang.


LKH mungkin bukan berubah, tapi berevolusi. Dari value investor puritan yang hanya mau masuk kalau sahamnya kelewat murah, menjadi investor pragmatis yang sadar bahwa kadang value tidak cuma tentang angka, tapi juga tentang dividen, sentimen, dan kejelasan masa depan. Toh, PER BBRI masih 9—secara teknikal masih bisa dipelintir jadi value investing versi “mepet.”

Ini juga bisa jadi bentuk survivor’s adaptation. Pasar Indonesia belakangan ini tidak menghargai saham-saham murah yang tidak punya cerita. Banyak saham PBV < 0,5 dan PER < 5 yang justru stagnan bertahun-tahun. Di sisi lain, saham seperti BBRI, TLKM, atau BRIS justru dihargai tinggi karena membawa narasi besar—dividen jumbo, transformasi digital, dan sentimen nasionalisme.

Jadi, kalau hari ini LKH duduk di kursi RUPS BBRI, jangan kaget. Beliau bukan keluar dari jalur. Beliau hanya bosan ditertawakan pasar. Kadang, bahkan value investor terbaik pun ingin merasakan sedikit dividen yang nyata, bukan sekadar imajinasi margin of safety yang tak kunjung disadari market.

Mungkin selama ini kita salah: LKH bukan murtad dari value investing, tapi akhirnya mengakui bahwa selera pasar kadang lebih penting daripada rasionalitas spreadsheet. Dan siapa tahu, setelah bertahun-tahun makan LOL Bakery dari BMTR, sekarang beliau ingin menikmati dividen BBRI yang bisa beli roti beneran. Entahlah, saya pun tak tahu.

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships


RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments