Laporan keuangan XL Axiata (EXCL) memang menarik untuk dianalisis lebih dalam, terutama dalam aspek aset, liabilitas, ekuitas, laporan laba rugi (P&L), arus kas, serta penyusutan dan amortisasi. Tidak ada indikasi pasti bahwa laporan ini memiliki keanehan besar atau ketidakwajaran yang ekstrem, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
Analisis ini bukan tuduhan, melainkan hanya dugaan berdasarkan data yang tersedia, yang perlu dikaji lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan yang pasti. Dari sisi aset, EXCL mencatatkan kenaikan total aset sebesar 5,1% YoY, dari Rp83,45 triliun di 2023 menjadi Rp87,69 triliun di 2024.
Kenaikan ini wajar, terutama karena investasi berkelanjutan dalam infrastruktur jaringan. Namun, ada beberapa poin yang patut dicermati. Aset tetap meningkat 7,3% YoY, tetapi penyusutan hanya naik 3,7% YoY, yang berarti rasio penyusutan terhadap aset tetap lebih rendah dibandingkan pertumbuhan asetnya.
Ini bisa terjadi karena EXCL memperpanjang umur ekonomis aset untuk menekan beban penyusutan, yang pada akhirnya membuat laba bersih tampak lebih besar dari yang seharusnya. Selain itu, aset pajak tangguhan naik 12,5% YoY, yang bisa menjadi indikasi bahwa perusahaan mengoptimalkan strategi pajak dengan cara tertentu, misalnya dengan menunda pengakuan beban pajak yang seharusnya muncul lebih awal.
Pada bagian liabilitas, EXCL mengalami lonjakan liabilitas sebesar 19,3% YoY, dari Rp54,95 triliun menjadi Rp65,57 triliun. Yang menarik adalah liabilitas jangka pendek naik 31,1% YoY, terutama pada utang usaha dan bagian lancar dari pinjaman jangka panjang. Ini menandakan bahwa perusahaan mungkin lebih banyak mengandalkan utang jangka pendek, yang biasanya memiliki tingkat bunga lebih tinggi dan bisa menyebabkan tekanan likuiditas jika tidak diimbangi dengan arus kas yang kuat.
Selain itu, liabilitas sewa juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp26,55 triliun (40,5% dari total liabilitas). Ini menunjukkan bahwa EXCL lebih memilih menyewa infrastruktur ketimbang membelinya secara langsung. Tidak ada yang salah dengan strategi ini, tetapi jika terlalu bergantung pada model sewa, EXCL bisa menghadapi risiko beban tetap yang tinggi, terutama dalam kondisi pasar yang tidak menguntungkan.
Dari sisi ekuitas, EXCL mencatatkan pertumbuhan yang cukup besar, yaitu 22,4% YoY, menjadi Rp22,13 triliun. Kenaikan ini didorong oleh laba bersih yang meningkat signifikan serta retensi laba yang cukup besar. Namun, perlu dicatat bahwa EXCL juga telah membagikan dividen sebesar Rp646,3 miliar, yang berarti sebagian laba telah didistribusikan kepada pemegang saham.
Ini wajar, tetapi tetap penting untuk melihat apakah laba yang tinggi ini berasal dari operasional inti perusahaan atau dari strategi akuntansi tertentu. Yang menarik adalah adanya penyajian kembali laporan keuangan akibat penerapan PSAK 338, yang mengubah nilai ekuitas sebesar Rp34,76 miliar. Penyajian kembali ini bisa mengindikasikan adanya penyesuaian dalam pencatatan transaksi antar entitas sepengendali, yang meskipun sesuai dengan standar akuntansi, tetap perlu diperhatikan lebih lanjut apakah ada dampak terhadap perhitungan laba atau ekuitas.
Dari laporan laba rugi (P&L), EXCL mencatat kenaikan laba bersih yang luar biasa, yakni 45,7% YoY, dari Rp1,27 triliun menjadi Rp1,85 triliun, padahal pertumbuhan pendapatan hanya 5,8% YoY. Ketidakseimbangan ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Salah satu faktornya adalah adanya keuntungan dari transaksi non-operasional, seperti penjualan menara dan sewa balik yang berkontribusi sebesar Rp415,6 miliar.
Ini adalah pendapatan yang bersifat sekali saja (one-off gain) dan tidak berulang. Jika laba bersih tampak meningkat pesat tetapi sebagian besar berasal dari transaksi yang tidak bisa diandalkan setiap tahun, maka bisa terjadi kesan bahwa profitabilitas EXCL lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Selain itu, ada peningkatan pendapatan lain-lain sebesar Rp12,67 miliar, yang juga bukan berasal dari operasional utama perusahaan.
Dari arus kas (cash flow), EXCL mencatat arus kas operasi yang positif sebesar Rp17,83 triliun (+10,8% YoY), yang menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menghasilkan uang dari aktivitas utamanya. Namun, ada tekanan pada arus kas investasi yang negatif sebesar Rp11,36 triliun, yang sebagian besar berasal dari belanja modal (Capex) sebesar Rp9,49 triliun.
Ini menunjukkan bahwa EXCL masih sangat bergantung pada investasi untuk ekspansi, yang dalam jangka panjang harus menghasilkan peningkatan pendapatan yang cukup besar untuk bisa menutup biaya tersebut. Arus kas dari pendanaan juga negatif Rp6,05 triliun, yang berarti EXCL lebih banyak membayar utang ketimbang mengambil utang baru.
Ini baik dalam jangka panjang karena bisa mengurangi beban bunga, tetapi juga bisa membatasi ekspansi jika arus kas operasional tidak tumbuh lebih cepat. Pada aspek penyusutan dan amortisasi, EXCL mencatatkan penyusutan sebesar Rp8,97 triliun (+3,7% YoY) dan amortisasi sebesar Rp2,43 triliun (+10% YoY).
Kenaikan amortisasi yang lebih tinggi dibanding penyusutan menunjukkan bahwa EXCL mungkin lebih banyak mengandalkan hak guna sewa dan lisensi spektrum, yang memang harus diamortisasi secara berbeda dibanding aset tetap.
Yang menarik adalah rasio penyusutan terhadap aset tetap yang lebih rendah dibanding pertumbuhan asetnya. Jika perusahaan memperpanjang umur ekonomis aset untuk mengurangi beban penyusutan, maka dalam jangka pendek laba bersih akan meningkat, tetapi dalam jangka panjang bisa ada risiko lonjakan biaya penyusutan mendadak jika aset mengalami peremajaan lebih cepat dari yang diproyeksikan.
Jadi apakah laporan keuangan EXCL wajar? Sebagian besar masih wajar, tetapi ada beberapa hal yang bisa menjadi indikasi strategi akuntansi agresif. Lonjakan laba bersih yang tidak proporsional terhadap pendapatan, perpanjangan umur ekonomis aset yang bisa menekan penyusutan, serta kenaikan liabilitas jangka pendek yang cukup besar adalah beberapa poin yang perlu dicermati lebih lanjut.
Tidak ada indikasi pasti adanya masalah, tetapi jika ada sesuatu yang perlu diawasi, maka itu adalah bagaimana EXCL mengelola pertumbuhan laba dalam beberapa tahun ke depan, apakah ini murni karena efisiensi operasional, atau lebih banyak karena optimalisasi akuntansi. Jika strategi yang digunakan saat ini hanya bersifat sementara, maka di masa depan bisa terjadi tekanan finansial ketika beban penyusutan meningkat atau pendapatan non-operasional menurun.
Dugaan ini tentu bukan tuduhan, melainkan hanya hal-hal yang perlu dipantau lebih lanjut. Jika EXCL bisa terus meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi ketergantungan pada utang, maka profitabilitas bisa lebih berkelanjutan. Namun, jika dalam beberapa tahun ke depan ada lonjakan beban yang tertunda atau penurunan pendapatan non-operasional, maka ini bisa menjadi sinyal bahwa laba bersih yang tinggi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi keuangan yang stabil dalam jangka panjang.
Aset
Total aset naik 5,1% YoY (pertumbuhan wajar seiring investasi)
Aset tetap naik 7,3% YoY, tetapi penyusutan hanya naik 3,7% YoY (indikasi perpanjangan umur aset untuk menekan biaya)
Aset pajak tangguhan naik 12,5% YoY (bisa jadi strategi menunda pengakuan pajak)
Liabilitas
Total liabilitas naik 19,3% YoY (kenaikan signifikan, meningkatkan risiko keuangan)
Liabilitas jangka pendek naik 31,1% YoY (lebih banyak utang jangka pendek, potensi tekanan likuiditas)
Liabilitas sewa mencapai Rp26,55 triliun (40,5% dari total liabilitas) (ketergantungan tinggi pada sewa)
Ekuitas
Ekuitas naik 22,4% YoY (pertumbuhan ekuitas positif)
Pembagian dividen Rp646,3 miliar (penghargaan kepada pemegang saham)
Penyajian kembali laporan keuangan karena PSAK 338 (perlu dicermati dampaknya terhadap ekuitas)
Laba Rugi (P&L)
Laba bersih naik 45,7% YoY, tapi revenue hanya naik 5,8% YoY (ketidakseimbangan yang mencurigakan)
Keuntungan dari transaksi non-operasional Rp415,6 miliar (laba sebagian besar berasal dari one-off gain)
Pendapatan lain-lain naik Rp12,67 miliar (tidak berasal dari operasional inti)
Arus Kas
Arus kas operasi positif Rp17,83 triliun (+10,8% YoY) (bisnis masih menghasilkan cash)
Arus kas investasi negatif Rp11,36 triliun (belanja modal tinggi, tekanan pada arus kas)
Arus kas pendanaan negatif Rp6,05 triliun (lebih banyak membayar utang, strategi keuangan yang baik)
Penyusutan & Amortisasi
Penyusutan Rp8,97 triliun (+3,7% YoY) (lebih rendah dibanding kenaikan aset tetap)
Amortisasi Rp2,43 triliun (+10% YoY) (kenaikan lebih cepat dibanding penyusutan, indikasi beban hak guna lebih besar)
Arus kas operasi positif dan ekuitas tumbuh sehat
Laba bersih meningkat tidak sebanding dengan revenue (banyak one-off gain)
Ketergantungan pada utang jangka pendek dan liabilitas sewa cukup tinggi
Penyusutan lebih rendah dibanding pertumbuhan aset tetap, bisa ada tekanan di masa depan
Ingin selangkah lebih maju dalam investasi? 🚀 Jadi Priority Member di PintarSaham dan dapatkan akses eksklusif ke analisis premium, rekomendasi terbaik, serta strategi investasi yang tidak dibagikan ke publik!
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! 👉https://bit.ly/PriorityMemberships