Jawaban pastinya, saya tidak tahu. Tapi menurut saya, saham NCKL terus turun bukan karena perusahaan mendadak buruk atau bisnisnya bermasalah, tapi lebih karena harga nikel global yang anjlok. Saat ini, harga nikel ada di $15,280 per ton, yang merupakan level terendah sejak Januari 2025. Padahal di 2024, harga nikel masih bertahan di atas $17.000 per ton.
Ini berarti laba perusahaan berbasis nikel seperti NCKL kemungkinan besar bakal ikut turun, karena pendapatan mereka sangat bergantung pada harga komoditas ini. Dan seperti biasa, pasar selalu bergerak lebih dulu sebelum angka-angka ini benar-benar muncul di laporan keuangan.
Menurut Jim Rogers dalam bukunya Hot Commodities, harga komoditas selalu bergerak dalam siklus panjang. Ada fase bullish ketika permintaan tinggi dan pasokan terbatas, lalu ada fase bearish ketika pasokan berlebihan dan harga jatuh. Sekarang, nikel lagi masuk ke fase oversupply, di mana jumlah produksi terlalu banyak sementara permintaan mulai berkurang. Ini skenario klasik yang membuat harga komoditas ambruk.
Banyak yang awalnya mengira harga nikel bakal naik setelah Indonesia mengumumkan pemotongan kuota produksi dari 270 juta ton di 2024 menjadi 150 juta ton di 2025. Harusnya, kalau pasokan berkurang, harga nikel naik, kan? Tapi pasar tetap skeptis. Kenapa? Karena jumlah smelter nikel di Indonesia terus bertambah secara masif.
Dulu, sebelum larangan ekspor bijih nikel diterapkan pada 2020, Indonesia cuma punya 4 smelter. Sekarang? Sudah 44 smelter beroperasi. Artinya, meskipun tambang dikurangi, pasokan nikel olahan masih terlalu besar. Hukum ekonomi sederhana: kalau barang terlalu banyak, harga turun.
Masalah berikutnya adalah permintaan nikel mulai melemah. Kalau dulu nikel selalu dibutuhkan untuk stainless steel dan baterai kendaraan listrik, sekarang China mulai mengembangkan baterai dengan teknologi baru yang lebih sedikit membutuhkan nikel. Jim Rogers selalu bilang, teknologi baru sering kali bikin siklus komoditas berubah lebih cepat dari perkiraan.
Kalau dulu permintaan nikel tinggi karena booming kendaraan listrik, sekarang produsen mulai cari alternatif yang lebih murah dan lebih efisien. Jadi bukan cuma pasokan yang berlebih, tapi permintaan juga mulai turun.
Sekarang, kita masuk ke pertanyaan kunci: kenapa saham NCKL turun terus meskipun laporan keuangannya masih mencatat laba? Jawabannya simpel: pasar nggak peduli dengan laporan keuangan masa lalu, yang pasar lihat adalah ekspektasi masa depan. Laba NCKL yang ada di laporan keuangan Q3 2024 masih berdasarkan harga nikel $17.000-an per ton.
Tapi sekarang harga nikel sudah turun ke $15.000-an per ton, jadi pasar langsung mengasumsikan laba 2025 pasti lebih kecil dari 2024. Itu sebabnya harga saham NCKL sudah turun sebelum laporan keuangan terbaru dirilis. Pasar lebih dulu mengambil ancang-ancang, dengan ekspektasi bahwa laba NCKL bakal jeblok di 2025.
Investor besar juga paham bahwa harga saham ini bisa ditekan lebih dalam sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru. Banyak yang bingung, kenapa harga turun terus tanpa ada perlawanan? Bisa jadi karena investor besar sudah melakukan short sell lebih dulu.
Short sell adalah strategi di mana investor meminjam saham, menjualnya di harga tinggi, lalu membelinya kembali di harga lebih rendah. Kalau mereka sudah tahu harga nikel turun, mereka bisa jual duluan di harga mahal, beli lagi di harga bawah, dan ambil untung di tengah. Sementara investor ritel yang kurang paham permainan ini, malah panik dan jual rugi.
Sekarang, harga saham NCKL lagi masuk fase price discovery, di mana pasar mencari titik harga yang paling sesuai dengan kondisi laba ke depan. Harga saham itu bukan sekadar angka di laporan keuangan terakhir, tapi kombinasi antara harapan, ekspektasi, dan ketakutan. Saat ini, ketakutan lebih dominan, sehingga harga terus ditekan.
Terus, apa yang harus dilakukan kalau nyangkut di NCKL? Tunggu Laporan Keuangan Q4 2024 dan Q1 2025. Itu akan jadi momen penting untuk melihat apakah ekspektasi pasar terhadap penurunan laba NCKL itu benar atau cuma overreacting.
Kalau labanya masih bertahan, harga saham bisa stabil. Tapi kalau labanya turun drastis sesuai prediksi, harga saham bisa turun lebih dalam. Kalau nggak yakin bisa tahan, cut loss dan move on. Daripada stres lihat harga turun terus, lebih baik cari saham lain yang nggak terlalu bergantung pada harga komoditas.
Kalau yakin sama fundamentalnya, cicil beli di harga bawah. Tapi ini bukan spekulasi jangka pendek, siklus komoditas bisa butuh bertahun-tahun sebelum naik lagi. Jadi, keputusan akhirnya ada di tangan masing-masing. Mau hold, cut loss, atau cicil beli? Yang penting paham risikonya.
Ingin selangkah lebih maju dalam investasi? 🚀 Jadi Priority Member di PintarSaham dan dapatkan akses eksklusif ke analisis premium, rekomendasi terbaik, serta strategi investasi yang tidak dibagikan ke publik!
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! 👉https://bit.ly/PriorityMemberships