Northstar Group, perusahaan investasi besar yang digawangi Patrick Walujo, awalnya terlihat begitu yakin dengan potensi eFishery. Startup ini dipandang sebagai “pahlawan” yang akan membawa revolusi di sektor akuakultur Indonesia. Bahkan, Patrick dengan bangga menyebut bahwa eFishery adalah salah satu contoh bagaimana teknologi bisa menjadi solusi nyata untuk meningkatkan produktivitas peternakan ikan. Dengan modal percaya diri itu, Northstar terlibat dalam pendanaan seri C pada 2022 dan seri D pada 2023. Total duit yang dikucurkan? Nggak main-main, mencapai US$198 juta atau setara triliunan rupiah.
Pada tahun 2023, eFishery bahkan mencapai status unicorn dengan valuasi US$1,3 miliar. Media, investor, dan komunitas startup memuji startup ini setinggi langit. “Inilah masa depan perikanan Indonesia!” begitu kira-kira narasi yang bertebaran di mana-mana. Patrick Walujo pun sempat mengatakan, eFishery bukan hanya bisnis, tapi solusi nyata. Semuanya tampak seperti cerita startup impian.
Namun, di balik panggung megah ini, ternyata ada “drama internal” yang nggak main-main. Awal 2025, Northstar secara mengejutkan mengungkap bahwa ada dugaan fraud atau penipuan sistematis di eFishery. Bayangkan, startup yang sebelumnya dielu-elukan ternyata diduga menggelembungkan pendapatan hingga Rp9,7 triliun! Patrick Walujo, yang awalnya memuji, langsung berubah 180 derajat. Ia dengan nada geram menyebut, “Kasus ini benar-benar memalukan!” dan bahkan menambahkan, “Ini aib besar!”
Menurut investigasi awal, praktik manipulasi ini nggak terjadi baru-baru ini. Patrick menduga sudah ada indikasi sejak 2018, artinya masalah ini sudah berakar lama. Namun, entah kenapa, semua pihak sepertinya “terhipnotis” oleh angka-angka manis yang dilaporkan eFishery. Bahkan Northstar, yang notabene adalah investor kawakan, tampak kecolongan. Apakah karena kepercayaan berlebihan atau ada yang terlewat dalam due diligence mereka? Itu jadi pertanyaan besar.
Puncaknya, pada akhir 2024, dua petinggi eFishery resmi diberhentikan karena dianggap bertanggung jawab atas dugaan fraud ini. Patrick bersama tim Northstar pun turun tangan langsung untuk menyelidiki kasus ini. Mereka menemukan bahwa manipulasi pendapatan dilakukan secara sistematis dan terorganisir. “Ini bukan sekadar kesalahan kecil, ini penipuan yang dirancang matang,” tegas Patrick. Bahkan, ia menyebut dampaknya bukan cuma buat eFishery, tapi juga mencoreng reputasi seluruh ekosistem startup Indonesia.
Jadi, bagaimana ini bisa terjadi? Gibran Huzaifah, pendiri sekaligus CEO eFishery, tentu menjadi sorotan utama. Sebagai sosok yang awalnya dielu-elukan karena visinya membawa teknologi ke perikanan, kini harus menghadapi tudingan berat. Banyak pihak mempertanyakan, bagaimana mungkin seorang founder tidak mengetahui praktik manipulasi sebesar ini? Ataukah justru ia terlibat? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kepercayaan publik terhadap eFishery hancur lebur.
Sarkasnya, startup yang digadang-gadang sebagai unicorn penyelamat perikanan Indonesia ini kini lebih mirip “kuda troya” yang membawa kehancuran ke dalam ekosistem startup. Northstar, yang awalnya jadi “pahlawan” pendanaan, sekarang harus menanggung malu karena investasi besar mereka justru berujung skandal.
Ironisnya, kasus ini terjadi di tengah tren di mana startup Indonesia mulai dilihat sebagai peluang besar. Tapi dengan munculnya skandal seperti ini, banyak investor jadi lebih skeptis. Mereka mulai bertanya-tanya, apakah angka yang dilaporkan startup benar-benar mencerminkan kondisi nyata? Atau hanya permainan kreatif akuntansi untuk menarik lebih banyak dana?
Bagi Northstar, ini jelas tamparan keras. Dari awalnya memberikan pujian setinggi langit hingga akhirnya “melaknat” eFishery sebagai sumber aib, perjalanan ini menjadi pengingat pahit bahwa hype startup tidak selalu sejalan dengan integritas. Pelajaran terbesar? Jangan terlalu cepat percaya sama laporan keuangan manis. Kadang yang terlihat indah dari luar, di dalamnya busuk.
Kalau melihat kronologi yang terjadi, bisa dibilang iya, Northstar yang sudah punya pengalaman panjang di dunia investasi dikadalin sama eFishery, sebuah startup yang relatif “newbie”. Bayangkan saja, Northstar yang dikenal punya track record solid, mengelola dana besar, dan investasinya tersebar di lebih dari 50 perusahaan, bisa kecolongan dengan kasus sebesar ini. Ini jadi ironi besar.
Patrick Walujo, salah satu pendiri Northstar, bahkan terang-terangan mengakui kekecewaannya. Ia bilang, fraud di eFishery ini sudah terindikasi sejak 2018. Tapi kok bisa bertahun-tahun tidak terendus atau malah diabaikan? Apakah Northstar terlalu percaya dengan laporan eFishery? Atau mungkin mereka terlalu terbuai dengan hype startup teknologi? Bisa jadi.
Di satu sisi, eFishery pintar membangun narasi. Mereka dijual sebagai “penyelamat” sektor akuakultur dengan teknologi keren. Mereka bikin semuanya terlihat manis, dari valuasi yang melonjak sampai status unicorn. Tapi ternyata, di belakang layar, ada dugaan penggelembungan pendapatan sampai Rp9,7 triliun. Angka segede itu bukan kesalahan kecil, tapi game plan yang sengaja dibuat rapi.
Jadi, kesannya seperti ini Northstar datang dengan koper penuh uang dan percaya bahwa mereka berinvestasi di the next big thing. Tapi ternyata, di balik narasi indah itu, ada praktik yang diduga manipulatif. Dan boom! Sekarang Northstar harus menghadapi kenyataan pahit, bahwa mereka ikut menanggung malu karena percaya pada startup yang mungkin lebih jago “bermain angka” daripada menjalankan bisnis yang sebenarnya.
Northstar dikadalin anak kemarin sore. Bukan cuma soal uang yang hilang, tapi juga reputasi mereka sebagai investor kawakan ikut tercoreng. Karena, let’s be real, siapa sih yang nggak malu kalau investasi triliunan malah berujung jadi kasus besar?
Investor ritel yang nyangkut di ADRO AADI jangan khawatir karena sekelas Patrick Northstar aja bisa salah nyaris jadi Patrick Star apalagi kita cuma investor ritel. Kesalahan adalah bagian dari perjalanan investasi.
Investor AADI ADRO masih bisa dapat dividen selama perusahaan cetak laba. Bagaimana dengan eFishery? Cuma dapat ucapan terimakasih.
Kalau seandainya Northstar all in di eFishery, maka tentu mereka bisa bangkrut. Tapi karena Northstar diversifikasi maka loss di eFishery maka loss mereka di eFishery itu hanya ecek ecek buat mereka. Ini adalah Patrick Northstar bukan Patrick SpongeBob. Loss di eFishery hanya lah kacang buat dia karena dia juga adalah golongan investor selot selot never all in.
Ingin mendapatkan insight eksklusif lainnya dari PintarSaham? Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan investasi Anda! Klik link berikut ini untuk bergabung dan mulai perjalanan finansial Anda https://bit.ly/NewsLetterPintarSaham