Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenBBRI Dividend Yield Berdasarkan Laba Buku 2023

BBRI Dividend Yield Berdasarkan Laba Buku 2023

Dividend yang dihitung hanya
1. Dividen 84 rupiah (29 Desember 2023) = dividen interim LK 2023
2. Dividen 235 rupiah (13 Maret 2024) = dividen final LK 2023
Dividen 135 rupiah tidak dihitung karena itu adalah dividen interim tahun buku LK 2024
Jadi total dividen tahun buku 2023 = 84 + 235 = 319 rupiah

Dividend Yield BBRI berdasarkan tahun buku 2023 = 319 rupiah / harga sekarang 3850 rupiah x 100% = dividend yield 8,2%

Kalau mau dividend yield 10% harga saham = 3190
Kalau mau dividend yield 15% harga saham = 2127
Kalau mau dividend yield 20% harga saham = 1595
Kalau mau dividend yield 25 % harga saham = 1276
Kalau mau dividend yield 30% harga saham = 1063
Kalau mau dividend yield 35% harga saham = 911
Kalau mau dividend yield 40% harga saham = 798
Kalau mau dividend yield 45% harga saham = 709
Kalau mau dividend yield 50% harga saham = 638

Tinggal pilih saja mau dividend yield berapa. Siapkan duit beli harga segitu. Dividend Yield 8,2% harga sekarang ini sudah masuk kategori lumayan.

Dividend yield bisa naik kalau laba 2024 dan seterusnya naik atau harga saham makin anjlok. Pak Toto lebih suka opsi Dividend Yield naik karena laba naik. Itu namanya upgrade skill.

Kalau bandar yang mau dividend yield 10% – 50%, maka bandar bisa melakukan shortsell. Dalam proses shortsell, bandar cuan dari penurunan harga saham. Setelah dividend yield target tercapai, bandar bisa cover and closed position, lalu serok bawah lagi.

Untuk bisa mencapai target shortsell, bandar tinggal pakai segala isu negatif seperti isu Bahlil maksa Himbara danai proyek hilirisasi yang belum tentu bisa cuan, situs BBRI kena hack, banyak karyawan BBRI yang kena kasus penggelapan rekening, hapus buku kredit macet UMKM dll.

Setelah bandar serok banyak, nanti good news akan bermunculan seperti BBRI dan Pegadaian jadi bank emas pertama di Indonesia, BBRI cetak laba gede dll.

Konsep saham dari dulu memang begitu. Selama fundamental tidak banyak berubah, naik turunnya harga saham itu hal yang wajar.

Tapi kalau BBRI tidak bisa cetak laba gede dan tidak bisa bagi dividend, di situ lah baru masalah utama muncul. Itu artinya fundamental berubah total kalau sampai laba anjlok dan dividen macet.

Kalau yakin fundamental tidak banyak berubah, serok terus selama harga anjlok. Selot selot selot lama – lama jadi komisaris.

Tapi kalau merasa fundamentalnya sudah busuk, move on ke saham lain.

Keputusan jual beli ada di tangan masing-masing investor. Jangan sampai stres karena nyangkut dan jangan penggal kepala hanya karena salah prediksi. Dunia tidak berakhir hanya karena nyangkut dan cutloss saham.

Ingin mendapatkan insight eksklusif lainnya dari PintarSaham? Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan investasi Anda! Klik link berikut ini untuk bergabung dan mulai perjalanan finansial Anda https://bit.ly/NewsLetterPintarSaham

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here