Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenMengapa IPO MDIY Aneh?

Mengapa IPO MDIY Aneh?

Artikel Tentang IPO MR. DIY MDIY Saingan ACES
1. Gambaran Umum IPO MR. DIY
2. Valuasi PER MDIY Mr. DIY
3. Valuasi PBV MDIY
4. PSP dan Direktur Mr. DIY
5. Perbandingan ACES vs MDIY: Mana yang Lebih Bagus

Jadi ceritanya MDIY mau melakukan IPO dan melepas 10% sahamnya ke publik, tapi dibagi jadi 9% dan 1%. User Stockbit di External Community Pintar Nyangkut bertanya-tanya, apa maksud dari pembagian ini? Yang 9% itu adalah saham yang dijual oleh pemegang saham pengendali, yaitu Azara Alpina Sdn Bhd. Mereka menjual 2.267.135.400 saham milik mereka ke publik. Hasil penjualan saham ini masuk ke kantong mereka langsung, bukan ke perusahaan MDIY. Sementara itu, yang 1% lagi adalah 251.904.000 saham baru yang diterbitkan oleh MDIY. Uang dari penjualan saham baru ini masuk ke perusahaan dan menambah ekuitasnya.

Sekarang, yang menarik adalah total dana yang akan diperoleh dari IPO ini mencapai sekitar Rp4,71 triliun. Rinciannya, sekitar Rp4,24 triliun berasal dari penjualan 9% saham oleh pemegang saham pengendali, dan sekitar Rp471 miliar dari penjualan 1% saham baru oleh MDIY. Itupun untuk bayar utang ke BNGA. Padahal, ekuitas perusahaan sebelum IPO hanya sekitar Rp2,13 triliun. Kok bisa pemegang saham pengendali dapat uang lebih besar dari ekuitas perusahaan? Itu karena valuasi perusahaan ditentukan oleh harga saham saat IPO dikalikan dengan total jumlah saham beredar setelah IPO, yang dalam kasus ini mencapai kapitalisasi pasar sekitar Rp47,1 triliun (25,19 miliar saham × Rp1.870 per saham).

Jadi, meskipun PSP MR. DIY hanya menjual 9% kepemilikannya, pemegang saham pengendali bisa mendapatkan dana segar hampir dua kali lipat dari total ekuitas perusahaan. Ini bukan sesuatu yang aneh dalam dunia pasar modal. Rata-rata saham IPO memang overvalued bisa lihat bagaimana valuasi GOTO BUKA BREN waktu IPO semuanya overvalued. Harga saham setelah IPO itu ya tergantung kemampuan bandar. Kalau bandar lemah seperti GOTO BUKA maka habis IPO valuasi overvalued, harga saham nyungsep. Tapi kalau bandarnya sudah Upgrade skill, maka bisa lihat BREN, habis IPO Overvalued, harga saham tetap ngegas. Pada akhirnya bandar adalah pengendali utama harga saham. Valuasi hanya bumbu.

Harga saham saat IPO biasanya mencerminkan ekspektasi investor terhadap prospek perusahaan di masa depan, bukan hanya nilai buku atau ekuitasnya saat ini. Jadi, jika investor yakin perusahaan punya potensi pertumbuhan yang besar, mereka bersedia membayar harga yang lebih tinggi. Tapi investor sebenarnya tidak peduli sama valuasi. Mereka lebih peduli apakah bandar sanggup goreng atau tidak.

Apakah tindakan pemegang saham pengendali MDIY ini bisa disebut exit strategy atau take profit? Kalau menurut saya sih, PSP MDIY ini lebih tepatnya disebut take profit. Mereka merealisasikan keuntungan dengan menjual sebagian kecil saham mereka pada valuasi tinggi tanpa kehilangan kontrol atas perusahaan. Setelah IPO, mereka masih memegang sekitar 86,67% saham (turun dari 95,67% sebelum IPO), jadi mereka tetap menjadi pengendali utama perusahaan. Tapi bisa dapat duit 4 Triliun rupiah. Enak banget.

Intinya, strategi ini memungkinkan pemegang saham pengendali mendapatkan dana segar yang besar tanpa harus melepaskan kendali atas perusahaan.
PSP MDIY langsung dapat 4 Triliun nanti pas IPO kalau IPO nya laris manis. Kita tinggal lihat aja seberapa baik investor ritel Indonesia dalam beli saham MDIY.
Sekarang tinggal kembali ke investor ritel, apakah mau ikut buy IPO MDIY dengan valuasi PBV 16-18 dan PER 38 – 44 atau malah bye aja? Semua terserah investor aja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here