Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenWSKT Q3 2024: Was Was Kita. Bahkan Jual Tol Pun Tidak Cukup...

WSKT Q3 2024: Was Was Kita. Bahkan Jual Tol Pun Tidak Cukup Untuk Bayar Utang

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) baru saja merilis laporan keuangan mereka, dan hasilnya kurang menggembirakan. Pendapatan usaha turun dari Rp7,82 triliun pada September 2023 menjadi Rp6,78 triliun pada September 2024, turun sekitar 13%. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya proyek konstruksi dan penundaan beberapa proyek.

Kerugian bersih perusahaan juga meningkat. Rugi periode berjalan naik dari Rp3,23 triliun menjadi Rp3,61 triliun, meningkat sekitar 12%. Rugi per saham dasar naik dari Rp98,39 menjadi Rp104,22, yang berarti nilai bagi pemegang saham menurun.

Beban keuangan menjadi beban terbesar bagi WSKT. Beban keuangan meningkat dari Rp3,17 triliun menjadi Rp3,46 triliun, terutama karena bunga atas utang bank dan obligasi. Total utang berbunga perusahaan mencapai sekitar Rp62,48 triliun. Dengan arus kas operasi negatif sebesar Rp3,5 triliun, kemampuan perusahaan untuk melunasi utang ini diragukan.

Perusahaan berusaha menjual aset untuk mendapatkan dana segar. Aset potensial yang bisa dijual antara lain investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama senilai Rp3,78 triliun, serta hak pengusahaan jalan tol senilai Rp42,12 triliun. Namun, penjualan aset ini bisa mempengaruhi operasi perusahaan di masa depan.

Penurunan pendapatan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Perlambatan ekonomi dan persaingan ketat di industri konstruksi membuat WSKT kesulitan meningkatkan pendapatan. Keterbatasan modal kerja juga membatasi kemampuan perusahaan untuk mengambil proyek baru.

Beban pokok pendapatan perusahaan tinggi, mencapai Rp5,75 triliun. Ini mencakup biaya bahan baku, subkontraktor, dan upah. Beban umum dan administrasi juga signifikan, sebesar Rp1,05 triliun. Beban produksi tidak teralokasi dan beban ekspedisi menambah tekanan pada keuangan perusahaan.

Jika Was Was Kita menjual aset jalan tol mereka setara dengan harga buku sekitar Rp42,12 triliun, maka itu tidak cukup untuk bayar total utang berbunga perusahaan mencapai sekitar Rp62,48 triliun. Jadi, meskipun seluruh hasil penjualan aset tol digunakan untuk membayar utang berbunga, masih ada kekurangan sekitar Rp20,36 triliun.

Total liabilitas perusahaan mencapai sekitar Rp80,58 triliun. Hasil penjualan aset tol sebesar Rp42,12 triliun hanya mencakup sekitar 52% dari total liabilitas. Jadi, masih ada sisa liabilitas yang belum terbayar.

Jika aset tol dijual dengan diskon dengan harga 25% hingga 75% dari harga buku, situasinya menjadi lebih sulit.

– Dijual 75% dari harga buku: Mendapatkan sekitar Rp31,59 triliun. Ini tidak cukup untuk melunasi utang berbunga atau total liabilitas.
– Dijual 50% dari harga buku: Mendapatkan sekitar Rp21,06 triliun. Jumlah ini jauh dari cukup untuk membayar utang berbunga atau liabilitas lainnya.
– Dijual 25% dari harga buku: Hanya mendapatkan sekitar Rp10,53 triliun. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan total utang perusahaan.

Jadi, menjual aset tol dengan harga di bawah harga buku tidak akan mampu melunasi utang berbunga maupun semua liabilitas.

Jika perusahaan ingin utang berbunga lunas, aset tol harus dijual di atas nilai buku.

– Total utang berbunga: Rp62,48 triliun
– Harga buku aset tol: Rp42,12 triliun
– Perhitungan: Rp62,48 triliun ÷ Rp42,12 triliun ≈ 1,48 kali

Artinya, aset tol harus dijual sekitar 1,5 kali harga buku agar utang berbunga bisa lunas.

Untuk melunasi semua liabilitas, aset tol harus dijual juga di atas nilai buku. Kita bagi total liabilitas dengan harga buku aset tol:

– Total liabilitas: Rp80,58 triliun
– Perhitungan: Rp80,58 triliun ÷ Rp42,12 triliun ≈ 1,91 kali

Jadi, aset tol harus dijual hampir 2 kali harga buku agar semua liabilitas bisa lunas.

Menjual aset tol dengan harga 1,5 hingga 2 kali harga buku adalah tantangan besar. Pasar mungkin tidak bersedia membayar harga setinggi itu, terutama jika aset tersebut tidak memberikan pendapatan yang sebanding.

Selain itu, menjual aset tol dengan harga di atas nilai buku memerlukan negosiasi yang kuat dan kondisi pasar yang menguntungkan. Dalam kondisi ekonomi yang lesu, ini menjadi semakin sulit.

Coba tanya ke konglomerat seperti ASII SRTG BSDE, PANI atau JSMR, mau ndak mereka beli tol WSKT? Anggap aja membantu negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here