Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeBelajar SahamSkydrugz Corner: Investor Aktivis

Skydrugz Corner: Investor Aktivis

Skydrugz Corner: Investor Aktivis

Investor aktivis adalah investor yang membeli saham di sebuah perusahaan dengan tujuan mengubah kebijakan manajemen dalam menjalankan perusahaan.

Jadi tujuannya bisa untuk menyarankan perusahaan menjalankan atau tidak menjalankan kebijakan ESG, melakukan divestasi atau merger dan akuisisi, melakukan restrukturisasi, hingga mengganti direktur.

Bedanya investor aktivis dengan private equity adalah kalau private equity itu biasanya membeli saham untuk menjadi PSP seperti yang dilakukan Northstar pada $DOID dan $TRIM sedangkan investor aktivis hanya memilih menjadi investor minoritas.

Strategi aktivis investor itu biasanya hanya lewat komunikasi publik dan diskusi dengan manajemen. Kalau manajemen menolak usulan maka investor aktivis akan mempengaruhi investor minoritas lainnya hingga melakukan kontes proxy untuk mengganti direktur atau memasukkan anggota mereka menjadi direktur sehingga kebijakan perusahaan bisa sejalan dengan agenda mereka.

Pelopor

Mungkin pelopor investor aktivis itu adalah Benjamin Graham. Dulu di tahun 1926, Benjamin Graham melakukan analisis saham Northern Pipeline Company dan setelah melakukan analisis balance sheet, dia menemukan bahwa perusahaan memiliki kelebihan kas sehingga dia pun melakukan akumulasi secara bertahap. Setelah berhasil mengumpulkan 5% kepemilikan, Graham pun menjadi pemilik saham terbesar kedua setelah Yayasan Rockefeller yang memiliki 23% saham

Northern Pipeline, saat itu harga sahamnya 65 dollar per lembar, dan bagi dividen hanya 6 dollar per lembar, padahal perusahaan memiliki cadangan kas 95 dollar per lembar dalam bentuk kas dan obligasi. Benar-benar saham ciri khas Value Investing Benjamin Graham.

Menurut Graham lebih baik kelebihan kas tersebut dibagikan jadi dividend daripada jadi duit nganggur karena toh perusahaan bisa tetap operasional seperti biasa meskipun tidak lagi memiliki semua Bond obligasi tersebut

Benjamin Graham beralasan bahwa semua keputusan menyangkut penggunaan modal perusahaan harus ditentukan oleh investor sebagai pemilik modal dan itu tidak boleh ditentukan oleh manajemen. Itu konsep yang zaman sekarang sudah diterima sebagai kelaziman tapi zaman dulu itu konsep yang asing karena semua penggunaan modal ditentukan oleh direktur sedangkan investor nonton saja. Jadi investor hanya bisa berharap pada kejujuran direktur. Kalau zaman sekarang, semua penggunaan modal harus minta izin mayoritas investor di RUPS

Menurut Benjamin Graham, direktur itu digaji oleh investor untuk bekerja untuk bisa menghasilkan laba untuk investor. Sehingga semua yang dilakukan oleh direktur harus atas izin investor

Tapi direktur menolak. Kata direkturnya waktu itu investor sebaiknya diam saja melihat manajemen bekerja. Menurut direktur Northern Pipelines, yang tahu kondisi perusahaan ya manajemen. Mana mungkin keputusan diambil oleh investor yang tidak tahu apa – apa. Jadi direktur perusahaan Northern Pipelines bilang ke Graham, kalau kamu tidak suka dengan gaya manajemen kami, lebih baik jual saja saham kamu

Karena tidak puas dengan respon direktur maka Guru Buffett tersebut melakukan gerilya untuk meminta dukungan dari investor lain. Selama setahun dia menemui semua investor yang memiliki lebih dari 100 lembar saham Northern Pipelines. Salah satunya adalah Yayasan Rockefeller.

Kebetulan Northern Pipelines tersebut adalah hasil pecahan perusahaan Standard Oil yang dulunya dimiliki oleh keluarga Rockefeller. Pemerintah Amerika yang memaksa pemecahan tersebut karena waktu itu Standard Oil dianggap terlalu powerful setelah menguasai 90% bisnis minyak di Amerika. Sekitar 10% kompetitor mengajukan protes ke pemerintah dan akhirnya Standard Oil dipecah jadi Exxon, Mobil, Amoco, Chevron, ARCO, Conoco, and Sohio

Setelah 2 tahun gerilya dan berhasil meyakinkan keluarga Rockefeller, akhirnya cadangan kas berlimpah perusahaan dibagikan jadi dividen. Graham cuan 70% dari investasi tersebut.

Setelah Benjamin Graham, makin banyak investor aktivis di Amerika seperti Carl Icahn yang menjadi Corporate Raider dan Elliott Management yang melakukan restrukturisasi pada AC Milan.

Bagaimana Dengan Di Indonesia?

Akhir – akhir ini kegiatan investor aktivis mulai mengemuka lagi setelah PTBA ingin melakukan pembelian PLTU PLN yang mau pensiun. Beberapa investor minoritas menentang transaksi tersebut, sedangkan manajemen dan pemegang saham pengendali ingin melakukan transaksi tersebut.

Di Masa Lalu Bagaimana?

Di Indonesia, belum banyak investor aktivis. Yang paling nampak itu dulu Hartawan Djamin di $SULI. Dulu dia sampai menggugat direktur SULI karena katanya mismanagement. Kawasan hutan industri SULI katanya ada aktivitas tambang Batubara tapi tidak pernah dilaporkan dalam laporan keuangan. Meskipun pada akhirnya PSP tetap menang setidaknya sudah ada upaya menyuarakan ketiksetujuan

Contoh investor aktivis yang berhasil di Indonesia adalah KKR di $AISA. Dengan dukungan investor minoritas, KKR berhasil menendang PSP dan direktur lama AISA. Mereka juga berhasil membuktikan bahwa direktur lama telah melakukan manipulasi laporan keuangan. Proses memperbaiki AISA ini butuh waktu lama tapi investor aktivis seperti KKR berhasil menunjukkan kelihaian mereka dalam menggalang dukungan investor minoritas.

Di Indonesia memang masih sulit untuk melakukan kegiatan investor aktivis karena mayoritas pengambilan keputusan ada di tangan investor mayoritas.

Negara dan bursa kita belum menganut sistem seperti di Hong Kong di mana setiap transaksi yang melibatkan benturan kepentingan maka yang boleh mengambil keputusan bukan lah pemegang saham pengendali ataupun mayoritas. Yang boleh mengambil keputusan adalah investor minoritas dan investor independen yang tidak ada hubungan afiliasi sama sekali dengan PSP.

Contoh paling nyata adalah ICBP yang waktu itu akan melakukan akuisisi Pinehill. Akuisisi tersebut bersifat material karena nilai transaksi >20% ekuitas dan dalam transaksi terdapat benturan kepentingan. Untuk mendapatkan persetujuan transaksi, ICBP harus melakukan dua kali RUPS yakni RUPS di Indonesia dan RUPS di Hong Kong karena PSP ICBP adalah First Pacific yang listing di Hong Kong. Ketika RUPS di Indonesia, pengambilan keputusan ada di tangan suara mayoritas. Sedangkan ketika RUPS di Hong Kong, keputusan transaksi ada di pengambilan suara investor minoritas. Jadi semua transaksi yang dianggap berpotensi merugikan investor minoritas maka harus dapat izin dari investor minoritas.

Kalau di Indonesia diberlakukan aturan yang sama seperti di Hongkong maka mungkin investor ritel minoritas bisa punya kekuatan lebih besar dalam menentukan jalannya perusahaan. Segala transaksi afiliasi dan relasi aneh – aneh material yang dilakukan oleh PSP dan direktur harusnya bisa diveto oleh investor minoritas.

Sebagai contoh dulu ketika AISA beli saham GOLL di harga premium 800 Milyar sebelum IPO

Lalu dijual lagi di harga diskon ke perusahaan afiliasi direktur Joko Mokoginta. Itu saja terlihat sebagai transaksi yang aneh. Tapi investor ritel tidak bisa protes

Investor minoritas harus memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukan kritik ketika pemegang saham pengendali dan direktur perusahaan melakukan transaksi yang berpotensi merugikan investor minoritas.

Disclaimer:

I am Not a Professional Financial Analyst and Advisor. Instrumen saham dan kripto adalah investasi yang beresiko tinggi. Resiko duit hilang 100% tetap ada. So be wise. Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing.

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386

Untuk mengetahui Data Kepemilikan Saham di bawah 5% maka bisa daftar gratis di link ini 

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here