Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightSkydrugz Corner: Beli Saham Berdasarkan Laporan Keuangan

Skydrugz Corner: Beli Saham Berdasarkan Laporan Keuangan

Skydrugz Corner: Beli Saham Berdasarkan Laporan Keuangan

Apakah mungkin timing the market? Jawaban mayoritas investor senior, timing the market adalah mustahil.

Jadi di artikel kali ini saya hanya ingin melakukan backdate bagaimana jika kita beli saham berdasarkan tanggal rilis Laporan Keuangan.

Asumsi dasarnya adalah:

1. Beli saham hanya yang sesuai dengan kriteria Benjamin Graham yakni PBV tidak lebih dari 1,5 dan PER tidak lebih dari 15, arus kas positif dan Utang berbunga kecil, dan ada riwayat bagi dividen.

2. Beli tambah hanya ketika di laporan keuangan periode berikutnya perusahaan mencetak pertumbuhan laba

3. Langsung jual ketika laba perusahaan anjlok begitu rilis LK.

4. Jadi jual beli saham dilakukan berdasarkan laporan keuangan kuartal.

Berdasarkan 4 poin di atas saya mencoba melakukan analisis backdated saham untuk melihat:

1. Harga saham ketika LK rilis

2. PER dan PBV perusahaan ketika awal beli dan tiap kuartal rilis LK

3. Pertumbuhan laba perusahaan tiap kuartal.

Sumber data saya adalah:

1. Data Keystat dan chart Ipot dan SB

2. Data dan tanggal rilis LK di situs IDX.

Untuk permulaan, saya coba backdating dulu SMDR.

SMDR
Skenario Beli
Entry LK Q1 2021
  1. Anggap kita punya duit 100 juta
  2. Kita baru beli SMDR karena LK Q1 2020 SMDR sudah positif alias turnaround
  3. LK Q1 2021 baru rilis tanggal 1 Mei 2022
    • Harga saham SMDR di 1 Mei 2021 kita tidak bisa beli. Jadi kita bisa beli di 3 Mei 2021 di harga 394
  4. Di 3 Mei 2021 harga 394 apakah SMDR memenuhi kriteria Graham?
    •  Di 3 Mei 2021 tersebut EPS SMDR adalah 58 rupiah. Disetahunkan jadi 232 rupiah EPS. Jika beli di harga 394 rupiah maka PER = 394/232 = 1,69.
    • Book value per share 1154 rupiah maka PBV di harga 394 rupiah adalah 394/1154 = 0,34. Secara valuasi Benjamin Graham sudah terpenuhi.
  5. Lalu apakah SMDR punya riwayat bagi dividen?
    • Kalau lihat data Stockbit, SMDR konsisten bagi dividend di masa lalu
    • Karena asumsi kita baru beli saham di 3 Mei 2021 jadi kita hanya lihat dividen sebelum 3 Mei 2021 yakni 2020, 2019, 2018, 2017 SMDR konsisten bagi dividen. Jadi kriteria dividen terpenuhi
  6.  Sekarang cek cashflow Q1 2021
    • Di Q1 2021 ternyata SMDR mencetak CFO yang sangat tebal. Jadi kriteria cashflow juga terpenuhi
  7. Sekarang cek utang berbunga saja
    • Utang berbunga hanya sekitar 155 juta dollar
    • Sedangkan cadangan kas perusahaan adalah 125 juta dollar. Itu artinya DER utang berbunga sudah pasti < 1
  8. Anggap entry pertama masuk 25 juta di harga 394. Demikian kita dapat 634 lot SMDR
  9. Kita menunggu LK Q2 2021 baru entry yang kedua
LK Q2 2021
  1. LK Q2 2021 rilis tanggal 30 Juli 2021. Jeda waktu antara rilis LK Q1 dan Q2 2021 adalah 3 bulan.
  2. Kita tidak bisa beli SMDR di 30 Juli 2021. Jadi kita belinya di 1 Agustus 2022 yaitu harga 685
    • Laba YTD Q2 SMDR masih naik 379%
    • Tapi laba Q2 2021 lebih rendah dari Q1 2021
    • Kalau mau pakai teori William O’Neil ini menunjukkan deselerasi laba
    • Bila ada deselerasi laba begini, kita bisa memutuskan exit sambil menunggu ada pertumbuhan laba baru entry lagi.
    • Kalau exit di harga 685 maka cuan kita setelah masuk di Q1 2021 adalah sekitar 73%. Not bad.
  3. Tapi anggap saja di Q2 2022 kita memutuskan entri lagi di harga 685 rupiah. Karena pertumbuhan laba SMDR memenuhi 2 dari 3 kriteria pertumbuhan laba yakni
    • Q1 + Q2 2022 > Q1 + Q2 2021
    • Q2 2022 > Q2 2021
    • Yang gagal tercapai adalah Q2 2021 > Q1 2021. Di SMDR laba Q1 2021 malah lebih besar dari Q2 2021.
    • Jadi anggap saja kita berikan toleransi karena 2 dari 3 kriteria terpenuhi
  4. Apakah valuasinya masih relevan di harga 685?
    • EPS 103. Setahunkan = 206. PER = 685/206= 3,3
    • Book value per share 1203. PBV = 685/1203 = 0,56
    • Secara valuasi masih murah
  5. Dari arus kas Q2 2021 juga masih positif
  6. DER utang berbunga < 1
  7. Secara fundamental dan valuasi masih bisa tambah posisi 25 juta lagi di harga 685. Artinya nambah 364 lot. Dengan demikian harga average menjadi 500 rupiah dan jumlah lot 998 lot
LK Q3 2021
  1. LK Q3 2021 rilis 29 Oktober 2021. Jeda 3 bulan dari LK Q2 2021.
  2. Harga 29 Oktober 2021 tidak bisa dibeli sahamnya. Jadi hanya bisa beli 1 November 2021. Harga 1 November 2021 adalah 780
  3. EPS Q3 2021 = 223 rupiah. Disetahunkan = 297 rupiah. PER = 780/297 = 2,62
    • PBV = 780/1373 = 0,56
    • Secara PBV dan PER masih undervalued
  4. Laba Q1 + Q2 + Q3 2021 > Q1 + Q2 + Q3 2020
    • Q3 2021 > Q2 2021
    • Q3 2021 > Q3 2020
    • Secara pertumbuhan laba ini memenuhi syarat William O’Neil
  5. Arus kas positif
  6. DER utang berbunga < 1
  7. Tambah posisi 25 juta di harga 780 sebanyak 320 lot. Total lot menjadi 1318 lot harga average 568
LK Q4 2021
  1. LK Q4 2021 rilis 31 Maret 2021. Jeda 4 bulan dari LK Q3 2021.
  2. Harga 31 Maret 2021 1580. Tapi anggap kita baru bisa beli di 1 April 2021 yakni 1585. tidak bisa dibeli sahamnya. Jadi hanya bisa beli 1 November 2021.
  3. EPS Q4 2021 = 402 rupiah.
    • PER = 1585/402 = 3,9
    • PBV = 1585/1663 = 0,95
    • Secara PBV dan PER masih undervalued
  4. Laba Q1 + Q2 + Q3 + Q4 2021 > Q1 + Q2 + Q3  + Q4 2020
    • Q4 2021 > Q3 2021
    • Q4 2021 > Q4 2020
    • Secara pertumbuhan laba ini memenuhi syarat William O’Neil
  5. Arus kas positif
  6. DER utang berbunga < 1
  7. Tambah posisi 25 juta di harga 1580 sebanyak 157 lot. Total lot menjadi 1475 lot harga average 677 rupiah.
  • Duit 100 juta sudah masuk semua.
  • Saham bisa di keep hold selama thesis awal masih valid yakni:
    • laba naik.
    • Fundamental Arus Kas dan Utang tidak banyak berubah
    • Valuasi masih murah
  • Jika baru jual saham di harga sekarang 2380 maka masih bisa cuan >100%.
  • Nampaknya strategi entri hanya ketika LK rilis dan laba naik merupakan strategi yang cukup menarik. Karena less transactions.
  • Tapi saya masih kekurangan bukti dan ada potensi hindsight bias. Saya perlu melakukan riset lagi pada saham lain.

I am Not a Professional Financial Analyst and Advisor. Instrumen saham dan kripto adalah investasi yang beresiko tinggi. Resiko duit hilang 100% tetap ada. So be wise. Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing.

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386

Untuk mengetahui Data Kepemilikan Saham di bawah 5% maka bisa daftar gratis di link ini 

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here