Arti ARA dan ARB di Saham

Arti ARA dan ARB di Saham

Bagi kamu yang baru saja belajar saham tentunya harus memahami berbagai macam istilahnya terlebih dahulu. Ketika berinvestasi di saham, kamu pasti akan sering sekali mendengar istilah ARA dan ARB di saham.

Jika kamu masih belum mengetahui apa arti ARA dan ARB di saham, maka kamu tidak perlu bersedih karena sekarang kami akan menjelaskannya secara ringkas namun jelas. Sehingga kamu bisa memahaminya secara mudah tanpa perlu kebingungan.

Apa itu saham ARA?

ARA adalah singkatan dari Auto Rejection Atas yang artinya adalah batas maksimum kenaikan harga dari suatu saham dalam jangka waktu satu hari perdagangan di bursa.

ARA atau Auto Rejection Atas diartikan sebagai batasan maksimum kenaikan harga sebuah saham dalam waktu satu hari perdagangan bursa. Sehingga apabila harga dari suatu saham naik secara signifikan hingga menyentuh batas atas yang telah ditetapkan bursa, maka saham tersebut akan mengalami ARA.

Harga Acuan Auto Rejection Atas
Rp 50 – Rp 200 >35%
>Rp 200 – Rp 5.000 >25%
>Rp 5.000 >20%

Contoh Saham ARA

Jika kamu membeli Saham A di hari Senin dan ditutup ditutup dengan harga Rp6.000. Maka, pada hari besoknya batasan auto reject atasnya adalah sebesar 20%. Sehingga harga kenaikan maksimalnya menjadi seperti ini; Rp 6.000 + (Rp 6.000 x 20%) = Rp 7.200. Sehingga jika di hari Selasa, harga saham A mengalami kenaikan hingga Rp 7.200 maka saham tersebut terkena ARA.

Apa itu Saham ARB?

Seperti namanya, ARB ini sudah pasti merupakan kebalikan dari ARA. ARB adalah singkatan dari Auto Reject Bawah yang artinya adalah batas maksimum penurunan harga dari suatu saham dalam jangka waktu satu hari perdagangan di bursa.

Baca Juga: Pengertian Aksi Korporasi Perusahaan dan Jenis-Jenisnya

Dulu, persentase ARB ini sama seperti ARA. Namun semenjak terjadi koreksi pasar saham yang cukup besar yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 membuat Bursa Efek Indonesia mengeluarkan ketentuan baru. Ketentuan ARB diubah yang semula adalah sebesar 20% – 30% menjadi hanya sebesar 7% saja.

Harga Acuan Auto Rejection Bawah
Rp 50 – Rp 200 <7%
>Rp 200 – Rp 5.000  <7%
>Rp 5.000  <7%

Contoh Saham ARB

Jika Kamu membeli Saham B di hari senin dan ditutup dengan harga Rp 3.000. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa selama pandemi persentase ARB menjadi sebesar 7% saja. Sehingga di hari selasa harga penurunan maksimalnya menjadi seperti ini; Rp 3.000 – (Rp 3.000 x 7%) = Rp 2.790. Jadi apabila harga saham B sudah menyentuh Rp 2.790 maka saham tersebut terkena ARB.

Bagaimana, sekarang kamu sudah bisa memahami arti ARA dan ARB di saham bukan? Semoga bisa menjawab rasa penasaran kamu selama ini ya.

 

Sumber: bigalpha, idxchannel

Share this post :
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *