Skydrugz Corner: Likuiditas Market Kering, Semua Orang Pesimis?

Berpikir

Skydrugz Corner: Likuiditas Market Kering, Semua Orang Pesimis?

Saya melihat market sudah mengalami kekeringan likuiditas dan orang – orang sudah mengalami pesimisme berat. Dan fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di Amerika Serikat. Semenjak The Fed stop melakukan QE dengan stop buyback bond dan menaikkan interest rates, market Amerika Serikat langsung kering kerontang. Ini salah satu fase yang sudah dijelaskan dengan baik oleh Howard Marks dalam bukunya Mastering The Cycle https://bit.ly/3f362jz dan The Most Important Things https://bit.ly/3S9VxJ

Ketika market mulai panas yang ditandai dengan banyaknya spekulasi, dan inflasi maka bank sentral akan melakukan rem mendadak untuk mendinginkan market. Yang ditakutkan oleh The Fed adalah jika inflasi terus meroket maka akan ada orang-orang yang tidak sanggup membeli barang kebutuhan pokok yang pada gilirannya akan memicu chaos. Saya melihat pemerintah dunia dan The Fed lebih memilih menghancurkan para kelas menengah di pasar modal ketimbang menimbulkan kemarahan masyarakat kelas bawah akibat inflasi yang mencekik. https://bit.ly/3UalkTG

Selain akibat ketakutan inflasi yang akan terus meroket yang disebabkan perang Rusia-Ukraina, beberapa indikator lain yang menunjukkan bahwa market sudah kekeringan likuiditas dan mayoritas orang pesimis antara lain:

Pertama, para fund manager reksadana saham di sana yang biasanya hold cash hanya 2-3% kini sudah hold cash >5%. Kalau menurut analis Bank of America, jika fund manager reksadana sudah hold cash >5% itu artinya mayoritas orang sudah maximum fear. https://cutt.ly/cBOlPs5

Kedua, market seluruh dunia >60% sudah anjlok. Di postingan saya sebelumnya saya cukup optimis dengan market Indonesia. http://bit.ly/3dgmjkQ

Bahkan IHSG sempat menjadi bursa nomor 4 terbaik return di 2022. http://bit.ly/3S3Qcmw

Tapi saya lihat posisi terakhir IHSG dari awalnya plus 8,3% menjadi sekarang hanya plus 3,54%. Indonesia melorot jadi bursa terbaik nomor 7 di 2022.

Dari 36 pasar saham terpilih di dunia hanya 9 bursa saja yang hijau sedangkan 27 bursa dunia lainnya anjlok di 2022. Market seluruh dunia memang sedang pesimis berat. Ada potensi menjelang tutup tahun 2022, sembilan market yang masih hijau saat ini akan ikutan merah juga seiring dengan makin agresifnya The Fed dan bank sentral seluruh dunia menaikkan interest rates. Pasar Saham Turki yang anomali karena harga saham mereka terus meroket sebab bank sentral mereka anti-mainstream. Ketika negara lain menaikkan interest rate, Turki malah menurunkannya. http://bit.ly/3EKGxym

Di Turki, era Cheap Money belum berakhir. Interest rates turun dan orang-orang lebih memilih simpan duit di saham ketimbang di deposito. Sedangkan di negara lain interest rates naik sehingga orang – orang lebih memilih simpan duit di deposito ketimbang di saham. Dalam kondisi saat ini, orang-orang lebih memilih simpan duit di dollar yang interest rate sudah >3% ketimbang simpan duit di negara lain. Tinggal tunggu waktu saja beberapa negara dunia akan bikin aturan larangan capital flight untuk mencegah orang beli dollar tanpa underlying export import transactions. https://bit.ly/3yy94ny

Ketiga, IHSG makin sunyi. Di market 14 Oktober 2022, transaksi IHSG di reguler dan nego hanya 11,4 Triliun. Padahal rata-rata harian sepanjang 2022 itu adalah 15 Triliun. Data yang saya ambil dari IDX ini beda dengan data RTI, Stockbit, Ipot dan MNC. Entah kenapa bisa beda – beda. http://bit.ly/3yIGfnJ

Tapi saya ambil saja data IDX. PER IHSG sekarang sisa 13,64 dan PER big cap sisa 16,64. Sudah murah secara PER. Tapi bisa saja akan lebih murah lagi seperti zaman crash dulu yang mencapai PER 11. http://bit.ly/3rXfwjz

Nilai transaksi memang mengecil di minggu 10-14 Oktober 2022. http://bit.ly/3VyqNV1

Dalam seminggu ini transaksi tidak ada yang tembus 15 Triliun.

Ini sudah jelas menunjukkan indikasi pengeringan likuiditas.

Keempat, mayoritas konsensus market sepakat bahwa Earning Growth di Q3 2022 akan lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Data Refinitiv di SP500 Amerika Serikat menunjukkan bahwa mayoritas analis sepakat bahwa Earning growth di Q3 2022 hanya sekitar 4% saja. Padahal tahun lalu di Q3 2021 orang – orang sepakat earning growth bisa 40%.

Turunnya ekspektasi para analis market cukup beralasan apalagi setelah melihat data earning season big bank di AS seperti Wells Fargo, JP Morgan, Citigroup, dan Morgan Stanley yang malah labanya rata – rata anjlok jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. http://bit.ly/3MwWV7m

Kalau laba big bank sudah anjlok begini maka itu artinya kondisi ekonomi di AS memang sedang tidak baik-baik saja. http://bit.ly/3CAQADB

Jadi mari kita pantau LK Big Bank di Indonesia seperti BBRI BBCA BMRI dan BBNI karena mereka adalah bellwether ekonomi kita. Jika pertumbuhan kredit melambat, itu artinya orang-orang memang pesimis melakukan ekspansi. Ketika orang-orang optimis, mereka akan ambil banyak pinjaman untuk melakukan ekspansi.

Semua data di atas sudah menunjukkan bahwa market memang sudah pesimis. Sampai kapan akan pesimis, saya juga tidak tahu. Yang penting adalah what to do?

Apa Yang Harus Dilakukan?

Apa yang harus dilakukan sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya. http://bit.ly/37yJV12

Ada 4 pilihan:

  • 1. Cash out 100%. Jual semua saham agar duit yang sudah cuan tidak dirampok market
  • 2. Stay in market 100%. Ikhlas nyangkut 100% di saham. Tutup OLT.
  • 3. 50:50. 50% di saham, 50% cash. Naik oke, anjlok oke.
  • 4. Scalping everyday. Karena selalu ada saham hijau meskipun market merah.

Tinggal pilih mau ambil jalan yang mana. Sesuaikan dengan kondisi psikologis dan dana masing-masing.

Kalau kalian punya gangguan jantung dan rentan sakit jiwa, stay out saja dari market karena saat ini mayoritas orang expecting the crash. Semua orang sedang mengantisipasi kondisi crash. Apakah crash makin besar atau tidak, kita lihat saja nanti. Tapi kalau kata Nassim Taleb, apa yang menghancurkan kita bukan lah hal yang kita ketahui dan sudah antisipasi. Yang bisa menghancurkan kita adalah apa yang belum kita ketahui dan belum antisipasi. https://bit.ly/3Sy3qc

Pertanyaannya adalah kita berdiri di pihak yang pesimis atau optimis? Apakah kita sudah punya tindakan antisipasi atas posisi yang kita sudah ambil?

Hanya masing-masing pribadi yang bisa menjawabnya.

Disclaimer: http://bit.ly/3bLj4Oc
http://bit.ly/3MhGBr6
https://bit.ly/3LsxlQJ
https://bit.ly/3SJLT0W

I am Not a Professional Financial Analyst and Advisor. Instrumen saham dan kripto adalah investasi yang beresiko tinggi. Resiko duit hilang 100% tetap ada. So be wise. Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing. Disclaimer On.

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386

Untuk mengetahui Data Kepemilikan Saham di bawah 5% maka bisa daftar gratis di link ini 

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Share this post :
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *