Menu Tutup

Risiko Berinvestasi di Saham

Risiko berinvestasi di saham

Dalam berinvestasi tentu saja selalu ada yang namanya risiko termasuk risiko dalam berinvestasi saham. Yang namanya risiko pasti selalu ada dalam setiap berinvestasi, tugas kita adalah mencari tahu sejauh mana kita paham risiko tersebut dan sebatas mana kita tahan terhadap risiko. Oleh karena itu, tiap orang memiliki profil risiko yang berbeda-beda terhadap suatu hal. Ada yang senang dengan olahraga ekstrim seperti panjat tebing ada yang lebih senang olahraga pikiran seperti catur. Darisana saja sudah ketahuan kalo tiap orang berbeda-beda termasuk dalam hal berinvestasi.

Berikut merupakan risiko-risiko yang ada apabila anda memutuskan berinvestasi di saham :

  • Capital Loss

Capital Loss adalah kerugian yang diperoleh dari selisih antara harga jual dan harga beli saham. Capital Loss merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga belinya. Dalam aktivitas perdagangan saham, tidak selalu pemodal mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang dijualnya. Ada kalanya investor menjual sahamnya lebih rendah harganya dari harga belinya, dengan demikian investor mengalami capital loss. Misalnya seorang investor membeli saham WXYZ dengan harga per lembar Rp5.000 kemudian harga saham mengalami penurunan hingga mencapai Rp4.700 per lembar saham. Karena takut harganya terus turun, saham tersebut langsung dijual oleh investor tersebut. Berarti investor tersebut telah mengalami capital loss sebesar Rp300 untuk setiap lembar saham yang dijualnya. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya capital loss ketika memutuskan membeli suatu saham perusahaan akan sangat baik apabila kita melakukan riset atau analisis terlebih dahulu. PintarSaham.id akan memabntu untuk belajar saham yang baik secara fundamental berdasarkan profil risiko investor 😀

  • Tidak Mendapat Dividen

Perusahaan hanya akan membagikan dividen jika perusahaan dapat menghasilkan keuntungan. Dengan demikian perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika perusahaan tersebut mengalami kerugian. Dengan demikian potensi keuntungan pemodal untuk mendapatkan dividen ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut. Selain itu, Dividen biasanya diputuskan melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Jika mayoritas pemegang saham tidak setuju untuk membagikan dividen dengan pertimbangan tertentu, walaupun perusahaan membukukan keuntungan, pemegang saham juga tidak berhak mendapatkan dividen. Terdapat beberapa perusahaan yang tidak pernah membagikan dividen kepada pemegang sahamnya, biasanya perusahaan ini tergolong  perusahaan yang sedang ekspansi sehingga seluruh keuntungan atau labanya digunakan untuk kepentingan modal. Jumlah perusahaan yang tidak pernah membagikan dividen di Bursa Efek Indonesia sedikit sehingga risiko ini bisa kita hindari dengan hanya membeli saham perusahaan yang rajin membagikan dividen. Perusahaan-perusahaan besar dan sudah terkenal produk atau jasanya biasanya sangat rutin membagikan dividen tiap tahunnya bahkan ada yang dividennya diatas bunga deposito lho :D. Nantikan pembahasan tentang dividen lebih lengkap di artikel berikutnya, agar tidak ketinggalan informasi artikel terbaru buruan kirim email kamu ke info@pintarsaham.id 

  • Risiko Suspend

Jika suatu saham terkena suspend atau diberhentikan perdagangannya oleh otoritas bursa efek. maka pemodal tidak dapat menjual sahamnya hingga saham tersebut dicabut status suspendnya. Jangka waktu suspend bervariasi, biasanya berlangsung dalam waktu singkat, seperti 1 hari perdagangan namun dapat pula berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan. Biasanya saham yang disuspend adalah saham yang “digoreng” sehingga kenaikan harganya terlalu tinggi dalam waktu yang sangat singkat namun tidak menutup kemungkinan juga ada alasan lain.  Apabila anda memegang saham yang sedang disuspend maka menunggu jawaban dari otoritas resmi dalam hal ini Bursa Efek Indonesia adalah satu-satunya solusi. Berikut adalah beberapa hal yang menyebabkan saham diberhentikan sementara perdagangannya:

  1. Harga sahamnya mengalami lonjakan, atau penurunan harga yang luar biasa dalam waktu singkat.
  2. Perusahaan tersebut dipailitkan oleh krediturnya.
  3. Suatu kondisi yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan saham tersebut untuk kemudian diminta konfirmasi lainnya, misalnya bila perusahaan tidak memberi laporan keuangan hingga batas waktu yang ditentukan.
  4. Jika setelah didapatkan suatu informasi yang jelas, maka status suspend atas saham tersebut dapat dicabut oleh bursa dan saham dapat diperdagangkan lagi seperti semula
  • Risiko Delisting Saham

Risiko lain yang dihadapi oleh para investor adalah jika saham perusahaan dikeluarkan dari pencatatan bursa efek (delisting). Suatu saham perusahaan di-delist di bursa umumnya karena kinerja perusahaan yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan peraturan pencatatan di bursa. Pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dalam membeli saham yang kemungkinan akan didelisting adalah dengan melakukan analisis yang mendalam tentang saham perusahaan yang akan kita beli tidak hanya dari segi kuantitatifnya tapi juga kualitatifnya. PintarSaham.id siap membantu memberikan edukasi yang baik dan benar tentang saham, ada ide artikel yang ingin ditampilkan di website ini? jangan lupa masukannya di kolom komentar atau kirim e-mail ke info@pintarsaham.id

  • Risiko Bangkrut dan Dilikuidasi

Jika perusahaan dinyatakan bangkrut oleh pengadilan dan perusahaan tersebut dibubarkan, maka akan berdampak pada pemegang saham. Sesuai dengan peraturan pencatatan saham di bursa efek, hak klaim dari pemegang saham biasanya mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi kepada kreditur dan pemegang obligasi. Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham, tidak akan memperoleh apa-apa. Ini adalah risiko terberat bagi pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan yang sahamnya dimiliki olehnya.

Spread the love
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *